Selasa, 26 April 2016

Harus Banget Ya Membaca?

Harus Banget Ya Membaca?
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah

Buku adalah jendela dunia sedangkan kunci untuk membukanya adalah membaca. Kata bijak tersebut mungkin sudah tak lagi asing di telinga kita bukan? dari zaman masih putih merah saya sudah mendengar kutipan ini sepertinya deh, mungkin bagian dari pelajaran bahasa Indonesia kali yah. Namun, kata bijak akan tetap sebagai kata, bias makna, tiada arti tanpa aplikasi. Wah, berat guys! Eits, woles dulu bahasan ini gak seserem itu kok, kali ini saya sedang ingin berbagi, Apa? Harta?, bisa dibilang gitu sih, bukannya Ilmu merupakan harta yang tiada dapat ternilai? bahkan akan tetap mengalir pahalanya meski kita telah meninggalkan dunia sekalipun.
Yuks mulai saja guys, saya adalah tipikal orang yang ketika ditanya mengenai hobi gak ragu untuk jawab, ‘membaca’. Meski pada kenyataannya kalo ditanya sudah berapa buku yang sudah habis dilahap, ya paling bisa diitung dengan jari. Selain itu, kecepatan membaca saya juga masih standar-standar saja. Dulu itu, ya seenggaknya sampai zaman putih abu lah, agak susah buat akses ke toko buku, ada sekalipun jaraknya cukup jauh. Ya, saya yang agak gaptek bisa apa. Padahal, buat baca sejenis novel atau buku motivasi sih suka banget, sayangnya perpustakaan sekolah isinya masih buku pelajaran semua. Walhasil berbekal gadget sederhana yang dikasih orang tua, saking pengennya baca novel atau buku apalah cari saja ebooknya terus baca deh. Ya, itu saya di masa lalu, dear maafin saya yang dulu yaa.
Kenangan banget, di mana kadang dimarahin gara-gara mainin hand phone terus, padahal kan lagi baca, selingan belajara aja gitu, terus meski mata udah pegel natep screen tetep aja diterusin, soalnya nanggung sih, oh ya yang cukup ngeselin adalah ketika download-an ebook tinggal bentar lagi terus battery habis dan harus ngulang lagi. Sedihnya, ujung-ujungnya kadang males buat ngulang, finally gak jadi baca deh. Sepenggal kisah sederhana, tapi bagi saya itu mengena. Dari apa yang saya alami sendiri, saya menganalisis bahwa mungkin mengapa minat baca Negara Indonesia masih rendah salah satu faktornya karena fasilitas yang tidak memadai, sehingga yang sudah semangat sekalipun biasanya akan malas-malasan, dan akhirnya habits membacapun tidak terbentuk menyebabkan minat baca menjadi rendah.
Oke deh, udah cukup nostalgianya. Kita move on ke masa sekarang nih. Alhamdulillah sih, sekarang akses untuk baca sudah sangat luas, dari mulai buku cetak dan digital sudah sangat mudah didapat. Permasalahannya sudah lain lagi ternyata, sekarang bukan lagi tentang fasilitas tetapi habits yang sudah terlanjur melekat. Males itu loh kaya permen karet kena rambut, nempel abis, eits tapi Allah ngasih masalah yang ada sepakat dengan solusi. Masalah permen karet kena rambut mah pake minyak juga lepas kok. Nah, masalah kebiasaan seperti yang tadi saya singgung jalan gampangnya ya diubah dengan kebiasaan baru lagi. Habits buruk diganti jadi habits baik.
Ngomongin habits, pasti kalian nanya, gaptek kok tahu habits segala, eits itu kan dulu. Sebenernya saya terinspirasi dari buku yang saya baca, yang judulnya sama seperti apa yang disinggung, ‘habits’, dari sebuah buku tersebut ternyata dapat mengubah mindset saya lebih luas, bahwa saya harus open minded untuk sekedar pada kebiasaan kecil yang harus dibiasakan atau ditinggalkan. Jazakallah khoir bangetlah buat penulisnya. Ternyata, satu buku dan satu pembaca dapat mengubah pandangan pembaca terhadap dunia.
Semenjak kuliah, cielah, saya mulai kebiasaan baik melalui akrab dengan toko buku, perpustakaan atau sejenisnya. Loh kok? Yap, tak kenal maka tak sayang bukan. Setelah itu baru deh coba buat baca buku-buku dengan genre yang saya suka saja dulu, tujuannya sih biar munculin asyiknya baca dulu, baru ningkat ke baca buku yang dibutuhin, saya baru sampe tingkat sini, masih belajar banget buat baca buku gak pilih-pilih. Gak mudah sih, tapi bukan berarti gak bisa kan? We’ll never know the result, if we never tried. Membaca merupakan hal sederhana sarat makna. Membaca meski terlihat seperti tak berbuat apa-apa, tapi sebenarnya sedang membuka jendela dunia. Bisa jadi mulai dari serangkaian kata dapat mengubah dunia. Seperti halnya ucapan, bagi saya tulisan juga mampu berperan sama dalam hal mengubah peradaban menjadi lebih baik.
Berawal dari membaca kita dapat membuat jarak menjadi lebih dekat. Berawal dari membaca kita dapat berbicara dengan seseorang tanpa harus bertatap muka. Berawal dari membaca kita dapat dengan mudah mengetahui kisah dari zaman ke zaman. Berawal dari gemar membaca mari wariskan karya terbaik kita untuk menjadi bacaan terbaik generasi masa depan. Al-quran sebagai pedoman muslim pun merupakan bacaan. Lebih dari itu perintah yang pertama kali ditujukan pada Rasulullah adalah ‘Iqra!’ Bacalah! “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq ayat 1).
Berawal dari kebiasaan membaca, mari sama-sama mengubah dunia!
Generasi gemar membaca, Mari bekarya!
Semangat karena Allah!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis blog oleh mukhofasalfikri.com yang bertema Pengalaman Membaca Buku


Tidak ada komentar :

Posting Komentar